Gazafa.com

Hero

Belajar dari Lo Kheng Hong Bagian 4: Sederhana Pangkal Kaya

Syariahsaham.com, CIANJUR --Tibalah saatnya sesi yang sangat dinantikan itu. Sesi testimonial investor yang akan dipaparkan oleh dua orang hebat. 

Pertama, Lo Kheng Hong yang terkenal sebagai Warren Buffet-nya Indonesia. Kedua, Giring Ganesha, vokalis Nidji yang memilih investasi di pasar modal untuk mewujudkan tujuan-tujuan finansialnya.

Let's start with the first one! Lo Kheng Hong (54) mulai berinvestasi saham 24 tahun yang lalu saat ia masih menjadi karyawan."Saya dilahirkan dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Orangtua hanya pegawai kecil. Saat tamat SMA, saya belum punya biaya untuk kuliah. Kemudian saya jadi pegawai tata usaha di bank, waktu itu saya disuruh-suruh untuk fotokopi dan lainnya. Kemudian saya bisa bekerja sambil kuliah. Saya pilih kampus yang murah sesuai kemampuan keuangan. Saat bekerja di bank itulah, saya mulai main saham. Saya sempat menjadi kepala cabang. Saya kemudian keluar dari bank dan fokus main saham." Demikian pernyataannya beberapa waktu lalu.

Pada sesi sharing kemarin, Lo Kheng Hong mengilustrasikan besarnya peluang gain dari investasi saham. Saat ia memilih saham pakan ternak, ia berijtihad bahwa bisnis ini sederhana dan tidak rumit. Namun justru kesederhanaan bisnis ini yang akhirnya bisa mengantarkan perusahaan yang bergerak dalam subsektor pakan ternak bisa meraup pertumbuhan laba tiap tahunnya. 

Salah satu investasi terbaik Lo Kheng Hong adalah ketika ia memiliki lebih dari 8 % kepemilikan saham MBAI (Multibreeder Adirama) yang ia beli di harga rata-rata 200-an pada sekitar tahun 2002. Kemudian ia menjualnya pada tahun 2011 di kisaran angka 30.000-an atau ketika harganya sudah mencapai sekitar 150 kali lipat. "Produk investasi mana yang bisa memberikan gain ribuan persen dalam beberapa tahun selain saham?" Ia menantang kita untuk mencari tahu.

Secara sederhana, Lo Kheng Hong mengajak kita berpikir bahwa setiap hari, mulai dari bangun pagi sampai tidur kita selalu berinteraksi dengan produk-produk dari perusahaan terbuka. "Ketika kita bangun kemudian ke kamar mandi, di sana kita menemukan closet bermerek TOTO, yang merupakan produk dari emiten" ia mencontohkan. 

Kita juga menggunakan sikat gigi, sabun yang diproduksi UNVR (Unilever). Pas ke dapur, ketika kita sarapan menggunakan mie rebus, maka kita bertemu dengan INDF (Indofood) atau ICBP, atau sekedar santap kue kecil produk MYOR (Mayora). Ketika menyalakan televisi, kita kembali berinteraksi dengan MNCN (RCTI, Global TV, MNC TV), EMTK (Indosiar dan SCTV), VIVA (ANTV dan TvOne).

Saat mulai berangkat kerja dengan menggunakan mobil, maka secara tidak langsung kita berinteraksi dengan ASII (Astra), kaca mobilnya yang mungkin produksi AMFG (Asahimas Flat Glass), bannya yang produk GJTL (Gajah Tunggal) atau GDYR (Goodyear). Masuk tol Jasa Marga (JSMR), saat melihat jalannya kita teringat SMGR (Semen Indonesia), INTP (Indocement) atau SMCB (Holcim). 

Kita juga memikirkan siapa kontraktornya, bisa jadi WIKA, WSKT atau ADHI. Intinya, kita sudah sering mengkonsumsi dan menggunakan produk-produk atau jasa perusahaan terbuaka, tapi apakah kita sudah mulai berpikir mendapatkan keuntungan dari usaha yang mereka tawarkan?

Berpikir dengan cara sederhana inilah yang membuat Lo Kheng Hong memutuskan investasi di saham. Keputusan sederhana yang pada akhirnya mengantarkannya menjadi seorang triliuner.

Untuk berlangganan, silakan masukkan email: