Order Rentetan 2017

Hero

Evan K. Insani: Sell on May and Go Away?

Syariahsaham.com, CIANJUR -- oleh: Evan K. Insani (COO Syariahsaham.com, mentor room @sarikelapa)

Ada yang pernah mendengar pepatah diatas? Ternyata kata-kata di atas merupakan kata-kata yang begitu populer bagi kalangan investor dan trader dunia.

Saking percayanya bahkan banyak juga yang menganggap ini adalah salah satu startegi dalam investing/trading.

Lebih lengkap bisa dibaca di http://www.investopedia.com/terms/s/sell-in-may-and-go-away.asp.

Kira-kira penyebabnya apa?

Banyak yang bilang "seasonal decline in equity market".

Cocokloginya, secara global bulan Mei adalah saat-saat menjelang summer holiday, libur panjang. Kalo liburan, butuh cash, jadi banyak yang withdraw dari equity market. Simpelnya begitu.

Lalu bagaimana dengan IHSG sendiri, apakah pepatah ini berlaku?

Kita lihat berdasarkan chart IHSG 5 tahun ke belakang aja ya


Daerah yg saya lingkari adalah periode dimulai dengan bulan Mei.

Ternyata 5 tahun ke belakang, IHSG cenderung turun dimulai pada bulan Mei, meski dengan besar penurunan dan lama penurunan yg berbeda-beda.


Apa bisa dibilang pepatah diatas berlaku thd IHSG?

Cocokloginya menurut saya, IHSG juga terkena dampak pepatah tersebut karena sebagian besar (meski sekarang sudah hampir seimbang) dana yg berputar di IHSG adalah dana asing, sehingga saat suasana global market turun, IHSG pun terkena dampak.
Sedangkan untuk local investor/trader-nya, mungkin lagi butuh cash untuk bayar sekolah/kuliah anak, liburan akhir tahun sekolah, mudik lebaran dan beli baju hari raya 🙈🙈🙈

Lalu bagaimana respon kita?

Sebelumnya saya cerita pengalaman pribadi dulu.

Sekitar tahun 2015, saya belum terlalu memantau equity market, namun sejak 2013 sudah menyisihkan dana di reksadana.

Pada tahun 2015 tersebut saya melakukan switching dari reksadana campuran ke reksadana saham (keduanya syariah). Saya ingat saya melakukan switching itu bulan April.

Setelah satu tahun dan saya sudah lebih paham tentang saham, saya memutuskan untuk menarik seluruh dana di reksadana saham untuk saya kelola sendiri.

Bulan Februari 2016 saya cek, dana saya statusnya masih minus, alias berkurang dari deposit awal. Baru akhirnya sekitar bulan Juni dana tersebut BEP.

Kesimpulannya, saya sepertinya salah timing saat itu. Akibatnya, jikalau dianalogikan dalam bisnis, saya mengalami opportunity lost karena dana saya tersimpan selama 1 tahun namun tidak bertumbuh.
Tapi dibilang rugi ya ngga juga, karena akhirnya bisa BEP, dan jadinya saya mulai concern untuk memperhatikan pergerakan market secara umum.


Balik ke topik semula; apakah dengan demikian kita musti away from market dan beneran sell on May?


Jawabannya seperti biasanya, tergantung.


Saya pribadi karena tidak trading indeks IHSG, jadi tidak terlalu memusingkan pergerakan IHSG.

Tapi pergerakan IHSG itu dijadikan sebagai kompas dalam bertransaksi.

Misalkan kita ada dinas keluar kota, melewati jalanan berliku dan terjal. Lalu apakah kita menolak untuk pergi?

Yang kita lakukan tentu lebih berhati-hati dan awas; melakukan pengecekan terhadap kondisi kendaraaan, lebih bersabar dan tidak emosional dalam berkendara, memakai sabuk pengaman dan berhenti tiap rentang waktu tertentu agar tidak mengantuk dan sebagainya.

Begitu pula dalam menghadapi pasar saham di bulan Mei; jikalau kita sudah punya gambaran kondisinya seperti apa, malah akan membuat kita lebih berani.

Karena ketakutan hanya disebabkan oleh ketidaktahuan.

Dan IHSG merupakan kumpulan dari 500 lebih saham; yang artinya jikalau IHSG turun bukan berarti semua saham turun juga.

Karena saya baru mulai trading tahun lalu, saya hanya bisa memberikan contoh tahun 2016.

Tahun lalu di bulan Mei hingga Agustus merupakan bulan-bulan dimana equity saya bertumbuh pesat.
Saat itu porto saya berisikan antara lain JPFA, RALS dan ADRO. Tahun lalu pun saya sudah kenal dengan pepatah sell on may.

Memang nggak adil sih jikalau membandingkan dengan tahun lalu dimana ada sentimen kebijakan ekonomi dan tax amnesty, jadi turunnya nggak dalam dan sebentar saja.

Hanya saja seperti yang saya sampaikan diatas, ketakutan hanyalah salah satu keluaran dari ketidaktahuan.
Jikalau kita sudah pelajari medannya, paham resikonya, dan tahu cara untuk melakukan mitigasi, apakah masih ada alasan untuk takut?


Saya sendiri antusias untuk menyambut fase ini; karena saya mau uji mental dan psikologi saya. Sekalian dengan menguji sistem trading dan konstruksi porto saya, apakah sanggup menahan gempuran badai yang  akan datang.

Ini dikarenakan saya menginginkan profesi trader sebagai profesi seumur hidup, ini tentu butuh ujian. Saya nggak mungkin minta market untuk selalu berbaik hati, saya akan jadi lembek dan manja.

Jikalau saya pernah menghadapi badai besar dan saya survive, ini akan menaikkan level psikologi saya untuk menghadapi tantangan ke depan.


Jadi menurut saya sih, siapkan saja diri masing-masing. Mau market naik atau turun, tugas saya making money with calculated risk.

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. ”
(Al-Insyirah ayat 5-6)

Dua kali pernyataan yg sama diulang dalam satu surat, kurang yakin apa? ☺️


Maka dari itu, bikin peer masing-masing.

1. coba cek pergerakan IHSG periode May-Sep dari tahun ke tahun.
2. coba cek pergerakan LQ45  periode May-Sep dari tahun ke tahun.
3. coba cek pergerakan KOMPAS100  periode May-Sep dari tahun ke tahun.
4. coba cek saham mana yang memiliki kecendrungan naik coba cek pada periode May-Sep dari tahun ke tahun.

Males bikin peer? Wah itu pilihan masing-masing. Saya disini bukan untuk ngasi tau mana saham yg akan naik 🙈

Terimakasih atas perhatiannya. mari berdiskusi, saya nyambi makan malam dulu 🍛

Untuk berlangganan, silakan masukkan email: