1

1

[Order] Rekap Laporan Akhir Tahun (RELAKUAT) 2016

Senarai @andirerei: Sektor Apa Ya?: Bagian 2

Syariahsaham.com, CIANJUR -- Tulisan bagian pertama, silakan klik di sini!.

Bagaimana dengan sektor konsumsi (JKCONS)? Ini dia datanya;


Pada saat terjadi krisis ekonomi tahun 2008, semua sektor terimbas, tak terkecuali JKCONS. Terjadi penurunan pada tahun 2008 (24,96%), tetapi setahun kemudian mengalami puncak kenaikan yakni tahun 2009 (105,39%). Namun demikian puncak kenaikan ekuitas kita justru baru terjadi pada akhir tahun 2016 mencapai sejumlah Rp592.233.603,42.

Tahun-tahun selanjutnya pertumbuhan JKCONS terus meningkat (lihat increase - kolom hijau), meski terjadi penurunan (lihat decline - kolom kuning), namun penurunannya tidak signifikan (5,19%), dan ekuitas kita pun tetap jauh lebih tinggi dibanding ekuitas awal di akhir tahun 2006.

Pada tahun 2008, penurunan di bursa saham terjadi begitu drastis. Namun kalau kita perhatikan, penurunan JKCONS pada saat krisis tersebut hanya sebesar (-24,96%), jauh lebih kecil daripada penurunan di sektor-sektor lainnya. Bahkan penurunannya masih di bawah penurunan JKSE. Besarnya tingkat penurunan sektor pada saat krisis tahun 2008 dapat kita lihat pada tabel di bawah ini:


Selanjutnya adalah JKPROP,


Sektor properti dan konstruksi (JKPROP) mengalami penurunan terdalam pada tahun 2008 (58,73%), meski tahun-tahun berikutnya kembali bisa bangkit, namun puncak kenaikan baru terjadi pada masa kampanye pemilihan presiden tahun 2014 (55,76%), sekaligus menjadi puncak kenaikan ekuitas kita mencapai sejumlah Rp427.033.843,15. Pada saat kampanye pemilihan presiden tersebut, saham konstruksi memang tampak seksi, dan hal ini yang mendorong pergerakan harganya terlihat elok.

Lalu bagaimana dengan JKINFA? Ini dia datanya,
Meski issu pembangunan infrastruktur pada saat kampanye pemilihan presiden tahun 2014 merupakan salah satu tending topic, tapi pergerakan harga saham-saham di JKINFA belum begitu terasa. Kenaikannya hanya sebesar 24,71%, masih kalah dengan kenaikan pada saat tahun 2009 (48,57%). Namun demikian tahun 2014 ini adalah puncak kenaikan ekuitas kita mencapai sejumlah Rp150.369.352,79.

Terus JKFINA bagaimana? Datanya di bawah ini,


Meski pada tahun 2008 itu adalah krisis akibat runtuhnya lembaga-lembaga keuangan di USA dan Eropa, tapi pengaruhnya tidak seberapa besar terhadap lembaga-lembaga keuangan di Indonesia. Data menunjukan bahwa penurunan di sektor ini hanya sebesar 32,67%, yang mana setahun kemudian yakni tahun 2009 malah rebound lebih dari 2 kali lipat (70,94%).

Namun demikian puncak kenaikan tertinggi ekuitas kita justru baru terjadi di tahun 2016 mencapai sejumlah Rp393.033.838,41. Kalau kita cermati, meskipun emiten penghuni di sektor ini adalah lembaga-lembaga keuangan, namun peningkatan ekuitas kita di JKFINA dalam kurun waktu 10 tahun ini masih kalah jika dibandingkan dengan di JKCONS atau JKMISC.

Kemudian JKTRAD, berikut ini:



Sektor perdagangan (JKTRADE) mengalami penurunan terdalam pada tahun 2008 (61,78%), tetapi setahun kemudian mengalami puncak kenaikan yakni tahun 2009 (85,91%). Namun demikian puncak kenaikan ekuitas kita justru baru terjadi pada tahun 2014 mencapai sejumlah Rp319.408.899,23.

Uraian di atas menunjukan bahwa volatilitas harga rata-rata tahunan sektor usaha/industri di Bursa Efek Indonesia dalam kurun waktu 2007-2016 itu beragam, tidak sama, satu sama lain berbeda-beda. Kembali ke konteks menghitung ulang valuasi saham secara periodik di atas, dalam mengantisipasi volatilitas harga inilah gunanya kegiatan tersebut.

Selanjutnya kita lihat data di bawah ini:

Data di atas menunjukan bahwa rata-rata peningkatan ekuitas kita dengan asumsi ekuitas awal kita Rp100.000.000,00 jika dibandingkan dengan peningkatan ekuitas JKSE yang meningkat menjadi sejumlah Rp293.362.023,13 (jika kita tetap hold selama 10 tahun tanpa sekali pun menjualnya), maka akan kita dapati sektor yang peningkatan ekuitasnya lebih tinggi dari JKSE, namun ada juga yang lebih rendah dari JKSE.

Sektor yang peningkatan ekuitsnya lebih rendah dari JKSE adalah JKAGRI, JKMING, JKINFA, dan yang lebih tinggi daripada JKSE adalah JKBIND, JKMISC, JKCONS, JKPROP, JKFINA, JKTRAD, dengan peningkatan tertinggi diraih oleh JKCONS.

Apa artinya? Bahwa JKCONS relatif lebih tahan banting di banding sektor lainnya, dan pertumbuhan JKCONS ini relatif stabil dengan kecenderungan terus meningkat. Maka dari itu JKCONS bisa dipertimbangkan sebagai sarana untuk berinvestasi jangka panjang. (#disclaimer on, hehehe..........).

Kita lanjut dengan melihat data pada tabel di bawah ini,



Pada tabel di atas tampak bahwa saat JKSE naik (incerase) tahun 2007, 2009, 2016, seluruh sektor ikut naik juga. Saat JKSE turun (decline) tahun 2008 dan 2015, seluruh sektor ikut turun juga. Namun di tahun-tahun lainnya ada beberapa anomali, sebagai beikut :

Tahun 2010 JKSE naik, tapi JKPROP malah turun (kita sebut saja anomali negatif ya).
Tahun 2011 JKSE naik, tapi JKAGRI, JKMING, JKINFA, JKFINA malah turun (anomai negatif).
Tahun 2012 JKSE naik, tapi JKAGRI dan JKMING malah turun (anomali negatif).
Tahun 2013 JKSE turun, tapi JKAGRI, JKCONS, JKPROP, JKINFA, JKTRADE malah naik (anomali positif).
Tahun 2014 JKSE naik, tapi JKMING malah turun (anomali negatif).

Sektor yang beranomali dengan JKSE namun anomalinya selalu positif adalah JKCONS dan JKTRADE. Sektor yang selalu beranomali negatif adalah JKMING dan JKFINA. Sektor yang beranomali positif sekaligus pernah juga beranomali negatif adalah JKAGRI, JKPROP dan JKFINA. Sektor yang tidak pernah beranomali (seiring sejalan dengan JKSE) adalah JKBIND dan JKMISC. (mohon dikoreksi kalau saya salah lihat, hehehe).

Selanjutnya adalah, bagaimana dengan proyeksi pertumbuhan untuk 10 tahun ke depan (2017-2026)? Bisa saja data rata-rata petumbuhan 10 tahun terakhir ini (2007-2016) dijadikan acuan untuk menghitung proyeksi pertumbuhan selanjutnya. Maka itu mari kita bareng-bareng berhitung masing-masing, hehehe............

Berdasarkan perhitungan proyeksi ke depan seperti di atas, mudah-mudahan didapat sektor pilihan yang menurut kita prospektif. Kemudian pertanyaannya adalah saham apa yang mesti dipilih disektor pilihan tersebut? Bisa saja kita teliti masing-masing saham di sektor tersebut, tapi yang paling mendekati biasanya adalah saham emiten yang jadi pemimpin sektor (big cap di sektornya).

Atau anda punya metode perhitungan lain? Kalau iya, maka yakinilah hitungan anda, percayailah dia, kemudian gunakanlah ! Selamat berinvestasi.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

#Disclaimer on

By @andirerei








Untuk berlangganan, silakan masukkan email: