Order Relakuat 2016

Hero

Hero

Senarai @andirerei: Sektor Apa Ya?: Bagian 1

Syariahsaham.com, CIANJUR -- Oleh : @andirerei (Sesepuh IDX6000) 
Pada saat kita melakukan investasi saham, tentu saja kita bermaksud hendak melipatgandakan aset yang kita miliki saat ini. Harapannya adalah di masa yang akan datang (saat kita tidak lagi produktif bekerja), aset kita telah berkembang dan cukup untuk bekal menikmati hidup yang mana hari-hari kita nanti diisi dengan bermain bersama cucu (incu) atau cicit (buyut). 

Meski dalam hal tertentu, investasi di saham bisa mendatangkan keuntungan berlipat dalam waktu yang relatif singkat, namun tidak jarang pula kita temukan bahwa untuk mencapai keuntungan yang besar memerlukan waktu yang panjang dan butuh kesabaran yang lebih. 

Pergerakan harga saham sangat dinamis mengikuti perkembangan kondisi makro dan mikro perekonomian serta kinerja usaha emiten atau pengaruh global. 

Hal ini kadang membuat kita tidak mudah dalam memilih saham emiten yang tepat (yang akan menguntungkan) yang tersebar di 9 sektor usaha/industri di Bursa Efek Indonesia. 

Data di bawah ini mudah-mudahan berguna dan membantu kita dalam menentukan sektor mana yang akan kita prioritaskan dalam memilih dan memilah saham “yang dapat diandalkan” untuk membuat aset kita berkembang dan sehat. 

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2007 – 2016), indeks harga saham gabungan (JKSE) mengalami kenaikan sejumlah Rp3.491,19 dari posisi Rp1.805,52 pada penutupan bursa di akhir tahun 2006 naik ke Rp5.296,71 pada penutupan bursa di akhir tahun 2016, atau meningkat sebesar 193,36%. 

Jika dihitung rata-rata maka kenaikan JKSE adalah sebesar 19,34%/tahun sebagaimana tabel di bawah ini.
Apabila investasi saham kita perkembangannya kurang lebih sejajar dengan tingkat kenaikan JKSE, maka aset kita semula di akhir tahun 2006 sejumlah Rp100.000.000,00 telah bertambah sejumlah Rp193.362.023,13 sehingga telah berkembang menjadi sejumlah Rp293.362.023,13 di akhir tahun 2016. 

Apakah memang demikian? belum tentu. Karena JKSE adalah gabungan dari 9 sektor usaha/industri yang perkembangannya dalam 10 tahun terakhir ini berbeda-beda. Perkembangan masing-masing sektor dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Pada tabel di atas tampak bawa sektor konsumsi (JKCONS) tumbuh paling tinggi diantara sektor lainnya yakni sebesar 492,23% dalam 10 tahun (rata-rata 49,22%/tahun). 

Jika investasi saham sektor konsumsi yang kita miliki kurang lebih disejajarkan dengan tingkat kenaikan JKCONS, maka aset kita di akhir tahun 2016 telah menjadi sejumlah Rp592.233.603,42 dari semula di akhir tahun 2006 sejumlah Rp100.000.000,00. 

Berbeda dengan JKCONS, pada periode ini sektor infrastruktur (JKINFA) malah tumbuh paling rendah. Return yang diberikan hanya sebesar 36,80% dalam 10 tahun (rata-rata 3,68%/tahun). Aset awal Rp100.000.000,00 berkembang hanya menjadi sejumlah Rp136.801.793,63. Return investasi di JKINFA ini lebih rendah dibanding angka inflasi tahunan di negara kita. 

Selain JKINFA, sektor lain yang pertumbuhannya tidak lebih baik dari angka inflasi tahunan adalah sektor pertanian (JKAGRI) yang tumbuh rata-rata hanya 5,30%/tahun dan sektor perdagangan (JKTRADE) yang rata-rata peningkatannya hanya 4,84%/tahun, sebagaimana data pada tabel di bawah ini. 

Tapi masa iya ketiga sektor usaha/industri di atas tadi hanya tumbuh rendah selama itu?

Ya betul, jika kita memegang saham di ketiga sektor tadi selama 10 tahun berturut-turut, tanpa menjualnya sekali pun. Ceritanya akan lain jika kita melihat data volatilitas rata-rata harga tahunan sektor, yang mana ketiga sektor ini pernah tumbuh bahkan lebih dari 100%. 

Oleh karena itu kita pun mesti ingat bahwa dalam berinvestasi, selain butuh waktu yang panjang, kita pun mesti menghitung ulang valuasi saham secara periodik (misalnya setap kuartal), terutama saat harga saham mengalami kenaikan yang sangat signifikan. 

Meski investasi kita baru 1 atau 2 tahun di suatu saham, namun jika harganya di market telah jauh naik lebih tinggi dari harga wajarnya (overvalued), maka saat itu kita sudah harus mempertimbangkan untuk menjualnya. 

Pengecualian dari ini adalah saham-saham di sektor konsumsi (karena katanya tahan banting dalam berbagai kondisi perekonomian sehingga harganya cenderung naik terus) yang akan dibahas berikutnya di bagian bawah nanti. 

Bagaimana dengan volatilitas tahunan sektor usaha/industri? Kita asumsikan bahwa kita berinvestasi dengan modal awal (ekuitas) sejumlah Rp100.000.000,00. 

Kita lihat tabel JKAGRI di bawah ini : 
Puncak kenaikan saham-saham sektor pertanian (JKAGRI) terjadi pada tahun 2007 (124,95%) dan turun drastis setahun berikutnya pada tahun 2008 (-66,48%) yang merupakan tahun penurunan terendah hingga saat ini (2016). 

Ekuitas kita pada akhir tahun 2007 yang sudah mencapai Rp224.954.655,50 dari ekuitas awal Rp100.000.000,00 pada akhitr tahun 2006 turun drastis tersisa hanya Rp75.404.817,60. 

Meski kemudian pertumbuhan harga kembali mengalami kenaikan, namun hingga akhir tahun 2016 kenaikannya belum bisa melewati angka kenaikan pada tahun 2007. 

Berikutnya adalah JKMING, 
Sektor pertambangan (JKMING) mengalami puncak kenaikan pada tahun 2007 (251,54%) dan turun drastis setahun berikutnya pada tahun 2008 (-73,25%) yang merupakan tahun penurunan terendah hingga saat ini. Ekuitas kita pada akhir tahun 2007 yang sudah mencapai Rp351.536.095,84 turun drastis tersisa hanya Rp94.049.570,84. 

Meski kemudian pertumbuhan harga kembali mengalami kenaikan, namun pada akhir tahun 2015, terjadi kembali penurunan yang membuat ekuitas kita turun paling rendah dalam kurun waktu 10 tahun tersebut. Puncak kenaikan tertinggi ekuitas kita dalam kurun waktu ini terjadi di tahun 2007. 

Selanjutnya JKBIND,
Sektor industri dasar (JKBIND) mengalami penurunan terdalam pada tahun 2008 (42,60%), tetapi setahun kemudian mengalami puncak kenaikan yakni tahun 2009 (102,93%). Namun demikian puncak kenaikan ekuitas kita justru terjadi pada tahun 2014 mencapai sejumlah Rp369.592.114,21. 

Berikutnya kita lihat volatilitas rata-rata harga di sektor aneka industri (JKMISC) dengan data pada tabel di bawah ini. Sektor aneka industri (JKMISC) mengalami penurunan terdalam pada tahun 2008 (54,18%), tetapi setahun kemudian mengalami puncak kenaikan yakni tahun 2009 (179,83%). 

Namun demikian puncak kenaikan ekuitas kita justru baru terjadi pada tahun 2016 mencapai sejumlah Rp552.406.093,83.

 Tulisan selanjutnya, silakan klik di sini!.

Untuk berlangganan, silakan masukkan email: