1

1

[Order] Rekap Laporan Sembilan Bulan (RANSEL) 2016

Dasar Analisis Teknikal bersama Etuz: Bagian 4 (Terakhir)

Syariahsaham.com, CIANJUR -- Klik di sini untuk kembali ke Bagian 3 !

3. Aplikasi Moving Average 
Setelah membahas beberapa hal penting di atas, tibalah saatnya mempraktekkan cara menggunakan moving average guna mengambil keputusan buy dan sell. Penulis memilih menggunakan EMA 20, EMA 50 dan EMA 100 sebagai dasar dalam analisa.

Perhatikan beberapa contoh di bawah ini dan penjelasannya :

a. Seperti terlihat pada gambar 2.5, adalah daily chart dari sebuah saham.
Gambar 2.5 
Posisi buy dapat dilakukan pada harga closing setelah candle menembus EMA 20, kemudian stop loss diletakkan pada harga open candle tersebut. Terlihat pada gambar bahwa harga terus naik dan stop loss tidak pernah tersentuh.

Ketika EMA 20 sudah crossing EMA 50 dari bawah ke atas, maka trader dapat menaikkan posisi sell (trailing stop) ke titik EMA 50 nya, guna mengamankan cuan. Terlihat di gambar juga bahwa trader dapat menambah posisi (average up), setiap kali harga menyentuh EMA 20.

Hal ini membuktikan bahwa EMA 20 juga bisa berfungsi sebagai support. Terlihat bahwa EMA 50 baru tersentuh 5 bulan setelah posisi buy, di sini trader bisa memutuskan apakah akan menjual semua kepemilikan sahamnya, atau hanya menjual sebagian, dan akan menjual sisanya ketika harga menyentuh EMA 100.
b. Perhatikan gambar 2.6 yang merupakan gambar daily chart dari sebuah saham.

Gambar 2.6
  Posisi buy dapat dilakukan pada harga closing setelah candle menembus EMA 20, kemudian stop loss diletakkan pada harga open candle tersebut. Terlihat pada gambar bahwa harga terus naik dan stop loss tidak pernah tersentuh.

Ketika EMA 20 sudah crossing EMA 50 dari bawah ke atas, maka trader dapat menaikkan posisi sell (trailing stop) ke titik EMA 50 nya, guna mengamankan cuan. Terlihat di gambar juga bahwa trader dapat menambah posisi (average up), setiap kali harga menyentuh EMA 20.

Hal ini membuktikan bahwa EMA 20 juga bisa berfungsi sebagai support. Terlihat bahwa EMA 50 baru tersentuh 5 bulan setelah posisi buy, di sini trader bisa memutuskan apakah akan menjual semua kepemilikan sahamnya, atau hanya menjual sebagian, dan akan menjual sisanya ketika harga menyentuh EMA 100.

Perlu diingat bahwa diperlukan money management yang baik sebelum mengambil keputusan untuk tambah posisi (average up), dikarenakan seperti pada gambar 2.5 dan 2.6, bisa saja terjadi setelah trader average up, harga turun ke EMA 50,sehingga apabila tidak diterapkan money management yang baik, maka bisa saja trader malah mengalami kerugian setelah average up.

Salah satu prinsip yang baik dalam average up adalah menggunakan sistem piramida. Jadi misalnya uang 100 juta akan dibelanjakan untuk membeli suatu saham, maka ketika entry pertama hanya 50 juta yang digunakan, dan average up berikutnya berturut turut adalah 30 juta, 15 juta, dan 5 juta.

Perlu juga dipertimbankan jarak harga antar average up, jangan sampai terlalu lebar namun jangan juga terlalu sempit. Untuk hal ini akan dibahas di lain kesempatan pada bahasan mengenai money management.

c. Perhatikan gambar 2.7 di bawah ini.

Gambar 2.7
Gambar tersebut menunjukkan moving average pada kondisi sideways. Terlihat bahwa kalau kita mengambil posisi buy dan sell dengan berpatokan bahwa buy ketika candle menembus EMA20 dan sell ketika candle menembus EMA20, maka keuntungan masih bisa didapatkan, tetapi hasilnya tidak maksimal. Maka dari itu moving average kurang cocok untuk menganalisa kondisi yang sideways.


4. Kesimpulan
Dari uraian di atas, ada beberapa kesimpulan tentang keunggulan dari Moving average :
  1. Moving average berfungsi sebagai filter, sehingga dapat menghilangkan noise akibat fluktuasi pergerakan harga. 
  2. Moving average berfungsi sebagai sinyal jual beli, yang ditunjukkan dengan :
    • Cross antara candle dan moving average, buy bila harga cross moving average dari bawah ke atas dan sell bila harga cross moving average dari atas ke bawah. 
    • Cross antara dua atau lebih moving average, seperti ditunjukkan pada beberapa contoh di atas. 
  3. Moving average berfungsi sebagai penunjuk trend, apakah sedang uptrend, downtrend ataupun sideways, seperti terlihat pada Gambar 2.8 di bawah ini.
  4. Gambar 2.8
  5. Moving average berfungsi sebagai support dan resisten, terlihat pada beberapa contoh seperti gambar 2.5 dan 2.6.

Selain keunggulan, ternyata moving average juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :
  1. Moving average adalah lagging indikator, sehingga hanya berfungsi mengikuti pergerakan harga, tentu saja selain moving average, trader juga harus menggabungkan hasil analisa dengan indikator lain, sehingga keputusan analisa bisa lebih akurat. 
  2. Moving average kurang cocok digunakan pada waktu kondisi harga sideways, karena tidak akan memberi hasil yang maksimal. Ketika kondisi sedang dalam trend, maka moving average akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan buy dan sell.

Untuk berlangganan, silakan masukkan email:

2 Responses to " Dasar Analisis Teknikal bersama Etuz: Bagian 4 (Terakhir) "

  1. Sangat membantu bagi newbie, simple dan mudah difahami. Jazakumullah.

    BalasHapus
  2. Sangat membantu bagi newbie, simple dan mudah difahami. Jazakumullah.

    BalasHapus