Order Rentetan 2017

Hero

Dasar Analisis Teknikal bersama Etuz: Bagian 3

Syariahsaham.com, CIANJUR -- Klik di sini untuk kembali ke Bagian 1  & Bagian 2!
b. Yang manakah dipakai dalam moving average, harga close,open, high atau low ?? 
Secara default, biasanya digunakan harga closing untuk perhitungan moving average, dan biasanya ini digunakan oleh online trading platform yang ada sekarang.
Tapi sebenarnya trader bisa juga menggunakan beberapa data berikut ini, antara lain :
- midpoint, yaitu menggunakan nilai (High+Low)/2
- Typical, yaitu menggunakan (H+L+C)/3
- Range, yaitu menggunakan (H-L)

Namun pada prakteknya, yang paling sering digunakan tetap closing price, sehingga lebih disarankan untuk menggunakan closing price sebagain acuan.

c. SMA, WMA, EMA dan VWMA 

Ada 4 tipe moving average secara umum, yaitu Simple Moving Average (SMA), Weighted Moving Average (WMA), Exponential Moving Average (EMA) dan Volume Weighted Moving Average (VWMA).

Perbedaan keempatnya adalah dari pembobotan yang diberikan kepada tiap data. Simple Moving Average (SMA) menggunakan pembobotan yang sama untuk setiap data, misalkan MA10, berarti kesepuluh data masing-masing mempunyai bobot yang sama, yaitu 10%.

Banyak trader menganggap SMA memiliki kelemahan karena pembobotan yang diberikan ke data 10 hari lalu, sama dengan pembobotan yang diberikan ke data hari ini. Hal ini kurang tepat karena data hari ini seharusnya mendapat bobot lebih banyak karena data hari ini tentunya lebih penting dalam menentukan arah harga ke depannya, dibanding dengan data 10 hari yang lalu.

Weighted Moving Average (WMA) menggunakan pembobotan yang berbeda untuk setiap data, misalkan MA10, maka data pada hari yang ke 1 (data hari ini) diberikan pembobotan lebih banyak daripada data pada hari ke 10 (data 10 hari yang lalu).

Untuk lebih jelasnya dapat dlihat perbedaan pembobotan antara SMA dan WMA pada tabel 2.1 di bawah ini:

Tabel 2.1

Exponential Moving Average (EMA) menggunakan pembobotan yang berbeda untuk setiap data, sama seperti WMA. Hanya saja pembobotan yang diberikan berbeda dengan WMA.

Penulis tidak akan menjabarkan formula yang panjang di tulisan ini, namun perlu diketahui bahwa pembobotan EMA terlihat seperti tabel 2.2 di bawah ini:

Tabel 2.2

Pertanyaannya, manakah yang harus kita gunakan ? manakah yang lebih akurat diantara SMA, WMA dan EMA ?

Perhatikan gambar 2.3 di bawah ini sebagai perbandingan antara SMA, WMA dan EMA.

Gambar 2.3

Dari gambar 2.3 terlihat jelas bahwa SMA 20 hampir sepanjang waktu berada di posisi paling bawah dari antara ketiga moving average. Hal ini membuktikan bahwa SMA merupakan indikator moving average yang paling lagging.

Namun hal ini juga memberikan keuntungan karena untuk trading jangka panjang, maka SMA seperti terlihat di gambar di atas hampir tidak pernah tersentuh oleh harga di saat sedang uptrend. Artinya SMA bisa digunakan sebagai support ataupun resisten yang cukup akurat.

Bagaimana dengan EMA ? Terlihat bahwa EMA lebih mendekati candle yang ada, dibandingkan dengan SMA, tapi masih lebih dekat WMA terhadap candle daripada EMA. Hal ini menandakan bahwa EMA lebih leading daripada SMA, tetapi masih tetap lagging bila dibandingkan dengan WMA.

Tetapi perlu diingat bahwa semakin leading suatu line terhadap price, maka makin rawan line itu mengalami volatilitas yang disebabkan oleh fluktuasi harga. Berarti WMA lebih rawan terhadap volatilitas bila dibandingkan dengan EMA.  Kesimpulannya, EMA dan WMA lebih cocok digunakan untuk short term.

Maka dapat disimpulkan bahwa:
- SMA lebih cocok digunakan sebagai support resisten jangka panjang
- EMA lebih cocok digunakan untuk support resisten short term
- WMA, karena sifatnya yang paling leading, cocok digunakan untuk mengambil keputusan entry dan exit.

Lantas apakah ketiga MA itu harus digunakan ? menurut penulis pribadi tidak perlu, karena cukup pakai salah satu saja yang terasa lebih pas dan sreg di hati.

Bagaimanapun, MA hanyalah indikator, faktor psikologis traderlah yang memainkan peranan penting, lagipula selisih antara SMA, WMA dan EMA tidak terlalu banyak. Maka pilihan diserahkan ke masing-masing trader untuk menggunakan yang mana, asal sesuai dengan trading sistem masing-masing, maka hasilnya tentu akan optimal.

Ada juga yang disebut dengan Volume Weighted Moving Average (VWMA), yaitu moving average yang pembobotannya di dasarkan pada volume transaksi. Semakin besar volume pada suatu harga, maka akan semakin besar pula nilai dari moving average tersebut.

Hasil dari moving average ini biasa disebut dengan Volume Weighting Average Price (VWAP). VWAP bisa digunakan sebagai support dan resisten, bila harga berada di bawah VWAP bisa dikategorikan dalam kondisi bearish, sedangkan bila harga berada di atas VWAP bisa dikategorikan dalam kondisi bullish.
Perhatikan gambar 2.4 di bawah ini.
Gambar 2.4
 Terlihat pada gambar 2.4 bahwa garis VWAP sangat menyimpang jauh sekali dari garis SMA, hal ini dikarenakan lonjakan volume yang tinggi pada beberapa harga, sehingga VWAP bisa juga dijadikan acuan untuk menentukan titik support dan resisten.

Untuk berlangganan, silakan masukkan email: