1

1

[Order] Rekap Laporan Sembilan Bulan (RANSEL) 2016

Laju Emiten Properti Melambat?

(Tulisan ini merupakan draft untuk majalah InilahReview, dan dimuat juga di portal Inilah.Com dengan judul Empat Saham Properti Dinilai Layak Dipertimbangkan)
Isu munculnya kebijakan yang kurang menguntungkan sedang menerpa industri properti. Mulai dari aturan pajak rumah mewah hingga ancaman naiknya suku bunga pinjaman. Bagaimana dengan kinerja saham-saham properti di kuartal pertama tahun ini?
Dalam perkembangan setahun terakhir, sektor properti dan konstruksi memimpin laju pertumbuhan diantara sektor lainnya. Sepanjang tahun 2014, sektor properti dan konstruksi menorehkan pertumbuhan sebesar 55,76%, jauh di atas kinerja IHSG yang membukukan return sebesar 22,29%. Capaian ini sekaligus menjadikan indeks sektor properti dan konstruksi tumbuh paling tinggi dibanding 24 indeks lainnya.
Namun dalam beberapa minggu terakhir, sektor ini mengalami penurunan. Penurunan ini terkait dengan kinerja sebagian besar emiten properti di kuartal pertama 2015 yang memang kurang begitu menggembirakan. Dari 38 emiten properti yang sudah melaporkan kinerja triwulan pertamanya, tercatat hanya 17 emiten yang membukukan kenaikan laba bersih dari periode yang sama di tahun sebelumnya.
Koreksi yang wajar ini tentunya memberikan kesempatan bagi para investor maupun trader jangka pendek dan menengah untuk mengoleksi beberapa saham yang masih murah secara valuasi dan menarik secara pergerakan teknikal.
Dengan mempertimbangkan kapitalisasi pasar, likuiditas perdagangan dan rasio keuangan berdasarkan laporan kinerja kuartal I/2015, diperoleh beberapa saham yang layak dicermati pergerakannya, masing-masing: LPKR, SMRA, CTRA, PWON, ASRI, APLN dan LPCK. (lihat tabel)

Setelah saham-saham tersebut di-screening secara fundamental berdasarkan kapitalisasi pasar, price earning ratio (PER), price to book value (PBV), return on equity (ROE) debt to equity ratio (DER), dan net profit margin (NPM), pertumbuhan laba bersih selama lima tahun terakhir juga dengan memprediksi harga wajar berdasarkan laporan keuangan terakhir, diperoleh empat saham yang layak dipertimbangkan untuk dikoleksi dalam beberapa waktu ke depan. Kelima saham tersebut adalah LPKR, LPCK, PWON, dan ASRI.
Saham LPKR merupakan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di sektor ini setelah BSDE.  Dengan rasio PER 17,56x, PBV 1,48x, dan DER 0,56x menjadikan saham ini masih menarik minat investor. Meskipun rasio ROE hanya sebesar 8,42% dan NPM yang berada di angka 17,50%. Dari kinerja laporan keuangan terakhir, dengan mempertimbangkan laba bersih per saham, BI rate, dan ROE emiten, diperoleh harga wajar sebesar Rp. 850. Jika dibandingkan dengan harga saat ini, ambang batas aman investasi (margin of safety) berada di angka minus 49,3%, yang artinya harga saham sudah melampaui harga wajarnya.
Berbeda dengan LPKR,  LPCK menjadi saham grup Lippo yang rasio keuangannya menarik untuk dicermati. Betapa tidak, saham ini berhasil mencatatkan kinerja positif di kuartal pertama tahun 2015 ini dengan laju pertumbuhan sebesar 19,53%. Peningkatan kinerja ini berdampak pada rasio keuangan yang cukup atraktif. Rasio PER tercatat sebesar ‘hanya’ 7,28x, PBV 2,47x, DER 0,02x, dan NPM 55,62%. Rasio ROE pun terdongkrak naik ke 34.89%. Dari kinerja cemerlang tersebut diprediksi harga wajar LPCK sebesar Rp. 23.247 dengan margin of safety yang terbilang aman di angka 51,1 %.
Rerata pertumbuhan laba bersih yang cukup fantastis selama lima tahun terakhir menjadikan saham PWON menarik untuk dicermati. Dengan ROE sebesar 14.8% dan NPM 28.15%, Harga wajar saham ini diprediksikan berada di kisaran Rp. 341 dengan margin of safety yang minus sebesar -28,0%. Meski demikian, PWON layak dicermati karena pertumbuhan sales-nya yang terus meningkat tiap tahunnya.Begitu juga dengan saham ASRI yang dapat dijadikan saham alternatif lainnya untuk dicermati. Secara fundamental, saham ini masih menarik dengan rasio PER sebesar 11,47x, PBV 1,85x, DER 1,05x, ROE 16,26% dan NPM 28,31%. Harga wajar saham ini diperkirakan berada di angka 724 atau memiliki ambang batas aman 9.5%.

Teknikal: Menunggu Reversal
Secara teknikal jangka menengah, dari keempat saham di atas, tiga diantaranya sedang berada dalam kondisi bearish. Kecuali ASRI, tiga saham lainnya sedang berada di bawah harga rerata (moving average) 20 hari dan 50 hari.
Hal ini mengindikasikan bahwa PWON, LPKR dan LPCK masih downtrend dalam jangka menengah. Hanya saham ASRI yang sedang berada dalam fase uptrend dan berusaha kembali menembus harga tertingginya.
Saham LPCK misalnya, saham ini sedang mengalami fase downtrend dengan support terdekat di kisaran Rp. 10.825. Batas-batas support selanjutnya yang perlu diantisipasi adalah Rp. 10.280, Rp 9.625 dan Rp. 8.970.
Kondisi yang hampir sama dialami oleh PWON yang sedang berada di area bottom. Support terdekat yang akan berusaha menahan laju penurunan adalah Rp. 424 kemudian Rp. 391. Sementara itu, ketika terjadi reversal, level resisten yang dapat diperhatikan berada di level Rp. 451 kemudian Rp. 478. 
LPKR sedang berusaha menembus resisten terdekat di Rp. 1.324. Sementara itu, garis support yang perlu diwaspadai ketika terjadi koreksi berada di level Rp. 1.240, kemudian Rp. 1.173, Rp. 1.105 dan Rp. 1.025.
Berbeda dengan ketiga saham di atas, ASRI sedang mengalami fase uptrend di kisaran harga Rp. 650-an. Level Rp. 700 menjadi resisten kuat sekaligus harga tertinggi  dalam setahun terakhir yang akan menahan laju kenaikan saham ini. Sementara itu, support terdekat saham ini berada di level Rp. 636, Rp. 597, dan Rp. 565. [amsi]



Untuk berlangganan, silakan masukkan email:

0 Response to " Laju Emiten Properti Melambat? "

Poskan Komentar